ALT_IMG

Featured 1

Foto Ali Ibn Abi Thalib Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Syekh Muhammad Samman al-Madani

Beliau adalah pendiri tarekat Sammaniyah Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Penulis berfoto dengan dr.Rahman seusai melaksanakan kegiatan persulukan Readmore...

Senin, 08 April 2013

SEJARAH TAREKAT SAMMANIYAH

0 komentar

SEJARAH TAREKAT SAMMANIYAH
Oleh : Saifuddin, M.A

            Nama Tarekat ini terambil dari nama seorang guru tasawuf yang masyhur yaitu Muhammad ibn ‘Abdul Karim al-Madani al-Syafi’i, yang dikenal dengan al-Sammani (1718 - 1775 M/1130 – 1189 H). Ia dilahirkan di Madinah dari keluarga Quraisy. Dia melewatkan hidupnya di Madinah dan tinggal di dalam rumah bersejarah milik Abu Bakr al-Siddiq.
            Syekh Muhammad Samman mempelajari berbagai tarekat kepada guru-guru terbesar pada zamannya. Guru tarekatnya yang paling mengesankan adalah Mustafa ibn Kamal ad-Din al-Bakri, pengarang produktif dan syekh tarekat Khalwatiyah dari Damaskus, yang pernah menetap di Madinah dan wafat di Kairo pada 1749. menurut beberapa sumber, Syekh Samman semasa kunjungannya ke Mesir (tahun 1760) pernah belajar pada dua guru Khalwatiyah lainnya, Muhammad ibn Salim al-Hifnawi dan Mahmud al-Kurdi, tetapi pengaruh keduanya tidak terlihat dalam karya-karya Syekh Samman sendiri dan ‘Abd as-Samad al-Palimbani. Dalam silsilahnya, ‘Abd as-Samad hanya menyebut rantaian guru Khalwatiyah, mulai dengan Mustafa al-Bakri, sehingga tarekat Sammaniyah lazim dianggap cabang dari tarekat Khalwatiyah.
Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan Syekh Muhammad Samman mengajarkan Tarekat di Madinah. Syekh Muhammad Samman juga menjabat sebagai pintu makam Nabi di Madinah. Dalam rangka jabatan ini, ia menerima tamu dari seluruh dunia Islam, sehingga tidak mengherankan bila ajaran tasawufnya menggabungkan tradisi dari berbagai wilayah dan benua: dari Maghrib dan Afrika Timur sampai ke India dan Nusantara. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Tarekat ini tersebar luas dan terkenal dengan nama Tarekat Sammaniyah.
Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika Abdullah Al-Basri – karena melakukan kesalahan – dipenjarakan dengan kaki dan leher dirantai. Dalam kedaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut nama Syekh Muhammad Samman tiga kali, seketika terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang murid Syekh Muhammad Samman yang melihat kejadian tersebut, Al-Basri menceritakan, “kulihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah putus.”
Perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam Tarekat dan Hakikat, menurut kitab Manaqib Tuan Syekh Muhammad Samman adalah sejak pertemuannya dengan Syekh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, si suatu ketika Syekh Muhammad Samman berkhalwat di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syekh Abdul Qadir Jailani membawakan pakaian jubah putih. “ini pakaian yang cocok untukmu”. Ia kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon semula Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah.
Di antara karya-karya Syekh Muhammad Samman yaitu :
  1. An-Nafakhat al-Ilahiyah fi as-Suluk at-Tariqah al-Muhammadiyah . ( النفحة الإلهية فى كيفية السلوك الطريقة المحمدية). Buku ini berisi tentang ajaran tatacara atau thariqah yang harus dilalui oleh salik untuk sampai kepada hadrah al-Rahman, yaitu terbukanya tabir yang menghalangi penglihatan untuk sampai kepada musyahadah dengan Tuhan. Tarekat yang diajarkannya berisi ajaran mengenai tata cara berzikir, berkhalwat, bergaul, berguru, dan menjadi wali Allah.
  2. Ratib Samman (رواتب السمان). Ratib ini berisi tentang ajaran zikir dan doa-doa kepada Tuhan yang dibaca sesudah sembahyang isya.
  3. Igsya lil hafa wal mu’nisat al-Walhan (إغشى اللحفاوالمؤنسات الولهان). Naskah ini berisi tentang metode zikir dan muraqabah agar fana dan baqa dapat dicapai.
  4. Risalah fi Ahwali al-Muraqabah (رسالة فى أحوال المراقبة). Naskah ini berisi tentang tarekat atau metode yang dilalui oleh sufi untuk sampai kepada maqam al-fana.
  5. Jaliyah al-Kurab wa Manilah al-‘Arab (جلية الكرب ومنيلة العرب). Naskah ini adalah syarah dari kitab yang berisi tentang ajaran zikir dan doa yang disusun dalam bentuk qasidah dan sebagai pedoman bagi ahl al-irfan (ahli ma’rifah) untuk sampai kepada Tuhan. Naskah ini ditulis oleh murid Syekh Muhammad Samman, yaitu Syekh Abdul Hamid.
Mengenai riwayat hidup Syekh Muhammad Samman secara terperinci tidak diketahui, hanya ada ditulis oleh salah seorang muridnya atau khalifah yang bernama Syekh Siddiq al-Madani dalam sebuah Manaqib Tuan Syekh Muhammad Samman, tetapi buku tersebut tidak banyak menceritakan tentang kesalehannya dan kezuhudannya, serta keramat dan keanehan-keanehannya, yang terdapat pada dirinya. Dalam buku tersebut dijelaskan latar belakang penulisannya bahwa kisah-kisah wali-wali Allah dan Hadis Nabi yang menjanjikan rahmat Allah bagi orang-orang yang suka membaca Manaqib wali-wali itu disamping membaca Al-Qur’an, membaca tahlil, dan bersedekah, berdasarkan hal itu ia tertarik untuk menulis sebuah Manaqib gurunya yang dianggap sebagai ahli syari’at, tarekat dan hakikat.
            Syekh Samman mempelajari berbagai tarekat kepada guru-guru terbesar pada zamannya. Ia bukan ahli tasawuf saja; ia juga mempelajari ilmu Islam lainnya. Suatu sumber Arab hampir sezaman dengannya, Sulaiman al-Ahdal dalam bukunya al-Nafs al-Yamani, sebagaimana dikutip oleh Martin Van Bruinessen menyebut lima gurunya merupakan ulama fiqih terkenal: Muhammad al-Daqqaq, Sayyid ’Ali al-’Aththar, ’Ali al-Kurdi, ’Abd al-Wahab al-Thanthawi (di Mekkah) dan Sa’id Hilal al-Makki. Di bidang Tasawuf dan Tauhid, gurunya yang paling mengesankan adalah Mustafa ibn Kamal ad-Din al-Bakri, pengarang produktif dan Syekh Tarekat Khalwatiyah dari Damaskus, yang pernah menetap di Madinah dan wafat di Kairo pada 1749. Menurut beberapa sumber, Samman semasa kunjungannya ke Mesir tahun 1760 pernah belajar pada guru Khalwatiyah lainnya, Muhammad ibn Salim al-Hifnawi dan Mahmud al-Kurdi, tetapi pengaruh keduanya tidak terlihat dalam karya-karya Samman sendiri dan ’Abd as-Samad al-Palimbani. Dalam silsilahnya, ’Abd as-Samad hanya menyebut rantai guru Khalwatiyah, mulai dengan Mustafa al-Bakri, sehingga Tarekat Sammaniyah lazim dianggap cabang dari Khalwatiyah. Padahal Syekh Samman memasuki Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Qadiriyah pula, dan oleh karenanya orang sezaman sering menyebut Muhammad ibn Abd al-Karim al-Qadiri as-Samman. Syekh lain yang sangat berpengaruh terhadap ajaran dan praktek-praktek Sammaniyah, walaupun Samman tidak bertemu langsung dengannya, adalah ’Abd al-Ghani an-Nabulusi (w. 1143 H/1731 M), salah seorang guru Mustafa al-Bakri, tokoh besar Tarekat Naqsyabandiyah dan pengarang sangat produktif, pembela Ibn ’Arabi dan ’Abd al-Karim al-Jili. Tarekat keempat yang diambil Samman adalah Syadziliyah, yang mewakili tradisi tasawuf Maghrib dan terkenal dengan hizib-hizibnya.
            Samman mulai mengajar perpaduan dari teknik-teknik zikir, bacaan-bacaan lain, dan ajaran metafisika semua tarekat ini dengan beberapa tambahan (qasidah dan bacaan lain susunannya sendiri), yang kemudian dikenal dengan nama baru Sammaniyah. Meski Sammaniyah bukanlah satu-satunya tarekat yang merupakan gabungan dari berbagai tarekat yang asli. Karena tidak lama kemudian, Muhammad ’Usman al-Mirghani mendirikan Tarekat Khatmiyah (perpaduan dari Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Syadziliyah, Junaidiyah dan Mirghaniyah), sedangkan Ahmad Khatib Sambas membuat perpaduan sejenis dengan nama Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kitab Fath al-’Arifin yang secara singkat menguraikan ajaran Ahmad Khatib Sambas begitu jelas menyamakan tarekat ini dengan Sammaniyah. Tarekat Khatmiyah kemudian menyebar, utamanya Afrika Timur, sedangkan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah tersebar ke Indonesia.
            As-Samman semasa hidupnya mengajar di Maderasah Sanjariyah yang didatangi banyak murid dari negeri-negeri jauh. Diriwayatkan bahwa dia pernah bepergian ke Yaman dan Mesir pada tahun 1174 H/1760 M untuk mendirikan cabang-cabang Sammaniyah dan mengajar murid-muridnya mengenai Zikir Sammaniyah. Ia juga mendirikan Zawiyah Sammaniyah di berbagai kota di Hijaz dan Yaman. Hikayat Syekh Muhammad Samman menceritakan bahwa salah satu zawiyah di kota Jeddah, dibangun atas biaya Sultan Palembang, dua tahun setelah wafat Syekh Samman yakni pada tahun 1191 H/1777 M.
            Dalam kitab Sair as-Salikin, ’Abd as-Samad menyebut tiga murid Syekh Samman yang diizinkan mengajar Tarekat Sammaniyah, yang paling terkenal diantaranya Siddiq ibn Umar Khan dan Muhammad Nafis. Di dalam kitab Hikayat Syeikh Samman juga disebutkan sejumlah nama murid terkemuka Syekh Samman. Disamping Syekh Siddiq dan Syekh Abdurrahman, kitab ini menyebut Syekh Abd al-Karim (putra Syekh Samman), Mawla Sayyid Ahmad al-Baghdadi, Shur ad-Din al-Qabili (dari Kabul Afganistan) dan Abd al-Wahab Afifi al-Misri. Sebagai orang Nusantara, penulis menyebut M. Arsyad al-Banjari, Abd al-Rahman al-Fathani, dan tiga orang Palembang: Syekh Abd as-Samad, Tuan Haji Ahmad dan dirinya, M. Muhyiddin ibn Syihabuddin.
            Murid-murid Syekh Samman dan banyak ulama di sekitarnya menganggapnya sebagai seorang wali yang luar biasa keramatnya. Dalam Hikayat Syekh Muhammad Samman ia disebut Khatam al-Wilayah al-Khashshah al-Muhammadiyah dan  martabatnya disamakan dengan martabat Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Keajaiban yang diriwayatkan dalam kitab Manaqib ini memang melebihi keajaiban wali-wali lain.
Continue reading →
Minggu, 07 April 2013

BIOGRAFI SYEKH MUDA AHMAD ARIFIN

6 komentar

BIOGRAFI SYEKH MUDA AHMAD ARIFIN
Oleh : Saifuddin, M.A

A. Riwayat Hidup Syekh Muda Ahmad Arifin
        Syekh Muda ahmad Arifin dilahirkan di Tanjug Morawa pada tanggal 1 April 1937. Ayahnya bernama Abdul Qadir dan ibunya bernama Satiroh. Ayahnya berasal dari daerah Aceh Tenggara dan ibunya berdarah Jawa. Beliau adalah anak keempat dari enam bersaudara. Beliau dibesarkan dalam keluarga yang taat pada agama. Ayah beliau bekerja sebagai guru agama.
          Jenjang pendidikan formalnya dimulai dengan memasuki SR (Sekolah Rakyat) pada umur 7 tahun di Padang Bulan, Medan. Setelah menyelesaikan SR, ia melanjutkan pendidikannya ke STP (Sekolah Teknik Pertama) di Sungai Kera, Medan dan selesai pada tahun 1953.
          Didorong oleh cita-citanya sejak kecil ingin menjadi seorang ulama, maka setelah menyelesaikan pendidikannya di STP, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Imam Ghazali yang dipimpin oleh Dr.Syekh H. Jalaluddin yang berlokasi di Jl. Bogor no. 8, Jakarta. Pada tahun 1962 ia menyelesaikan pendidikannya di pesantren tersebut. Pada tahun 1966 Syekh Muda ahmad Arifin melanjutkan pendidikannya dalam bidang Ilmu Hakikat di Perguruan Tinggi Imam Ghazali Jakarta selama dua tahun dan memperoleh gelar “doktor” dalam bidang ruhaniah pada tahun 1968.

B. Belajar Tarekat Kepada Syekh Muda Abdul Qadim
          Syekh Muda Ahmad Arifin memulai pendidikan tarekatnya pada Syekh Muda Abdul Qadim pada tahun 1954 di kampung Balubus. Balubus adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Dangung-Dangung, Kota Paya Kumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Setelah lebih kurang selama 16 tahun dalam bimbingan gurunya Syekh Muda abdul Qadim, maka pada bulan Dzul Hijjah, bertepatan dengan bulan Februari 1970, ketika ia mengikuti latihan suluk ketiga, sebagaimana disebutkan oleh gurunya ia mengalami fana fillah (karam dalam zikrullah) selama tiga hari tiga malam, mulai dari senin fajar sebeleum subuh hingga kamis fajar dan beliau tersadar ketika azan Subuh dikumandangkan. Atas kemajuan yang diperoleh muridnya, pada saat itu juga yang bertepatan pada bulan februari 1970, sang guru memberikan gelar “syekh muda” kepada Ahmad Arifin yang pada saat itu berusia 33 tahun, suatu gelar yang lazim diberikan kepada mereka yang dianggap bisa membuka suluk dan telah mapan spiritualnya. Syekh Muda Abdul Qadim memberikan kepadanya ijazah dan silsilah tarekat Sammaniyah.
          Diantara murid-murid Syekh Muda Abdul Qadim yang telah berhasil memperoleh ijazah dan gelar syekh adalah Syekh Muhammad Thoib, Syekh Abdul Malik, Syekh Angko Mudo, Syekh Mukhtar Tanjung, Syekh Ibrahim Bonjol, Syekh Baringin, dan terakhir adalah beliau sendiri

C. Peran Syekh Muda Ahmad Arifin Sebagai Pengembang Tarekat Sammaniyah
          Beliau memulai dakwahnya di daerah Padang Bulan Medan pada tahun 1970. beliau menanamakan majelis pengajian yang dipimpinnya dengan nama “Majelis Pengajian Ihya Ulumuddin Tarekat Sammaniyah”. Di dalam setiap ceramahnya dihadapan para jamaahnya ia selalu menekankan keharusan memadukan antara syari’at dan hakikat sebagai sesuatu yang padu bagaikan tubuh dan nyawa di mana antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Penegasan ini menjadi salah satu aturan dalam sistem tarekatnya.
          Melalui murid-muridnya, tarekat Sammaniyah tersebar ke berbagai daerah. Dalam rangka memperluas ajaran tarekatnya, beliau membentuk komposisi kepengurusan tarekat Sammaniyah yang dipimpinnya mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Ia menunjuk murid-muridnya untuk membantu tugas beliau dalam menyebarluaskan ajaran tarekat Sammaniyah ke daerah-daerah. Muridanya banyak tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatera Utara, Aceh, Riau, Kepulauan Riau, pulau Jawa, bahkan Malaysia.
Continue reading →

SILSILAH TAREKAT SAMMANIYAH

2 komentar
SILSILAH TAREKAT SAMMANIYAH
Oleh : Saifuddin, M.A

            Silsilah tarekat adalah genealogi otoritas spiritual. Silsilah menjelaskan jalur penerimaan tarekat oleh seseorang. Dengan begitu, silsilah berfungsi sebagai identitas keotentikan ajaran, sekaligus sebagai sumber otoritas seseorang dalam tarekat.
            Silsilah merupakan hubungan guru murid yang sangat panjang, biasanya tertulis rapi dalam bahasa Arab di atas sepotong kertas, yang diserahkan kepada murid tarekat, sesudah ia melakukan latihan dan amal-amal, dan sesudah menerima petunjuk-petunjuk, irsyad, dan peringatan-peringatan, talqin, dan sesudah membuat janji untuk tidak melakukan maksiat-maksiat yang dilarang oleh gurunya, dan menerima ijazah atau khirqah, sebagai tanda boleh meneruskan lagi pelajaran tarekat itu kepada orang lain.
            Karena para Sufi mengaku bahwa dasar-dasar pemikiran dan pengamalan sebuah tarekat berasal dari Nabi sendiri, para pengikut sebuah tarekat memandang penting sekali urut-urutan nama para guru yang telah mengajarkan dasar-dasar tarekat itu secara turun-temurun. Setiap guru sebuah tarekat dengan hati-hati menjaga silsilah yang  menunjukkan siapakah gurunya dan siapa guru-guru sebelum dia, sampai kepada Nabi. Silsilah itu bagaikan kartu nama dan legitimasi seorang guru: menunjukkan ke cabang tarekat mana ia termasuk dan bagaimana hubungannya dengan guru-guru tarekat lainnya.      
Adapun Syekh Muda Ahmad Arifin dalam silsilah Tarekat Sammaniyah ini menduduki rantai sanad dengan nomor urut ke-37. silsilah dimaksud adalah rantai turunan ajaran tarekat yang dihitung dari Nabi Muhammad S.A.W. Inilah susunan silsilah Tarekat Sammaniyah dari Syaikh Muda Ahmad Arifin, berdasarkan ijazah dan silsilah yang diperoleh beliau dari gurunya Syekh Muda Abdul Qadim Balubus di Sumatera Barat.
1.     Allah S.W.T (Rabb al-’Izzah)
2.     Jibril A.S.
3.     Nabi Muhammad S.A.W.
4.     Ali ibn Abi Thalib r. a. Karamullah Wajhahu
5.     Syaikh Daud al-Tha’i.
6.     Syaikh Ma’ruf al-Karahi.
7.     Syaikh Sirri al-Saqthi.
8.     Syaikh Junaid al-Baghdadi.
9.     Syaikh Muhammad Addainuri
10.                        Syaikh Muhammad al-Bakri.
11.                        Syaikh Wajihuddin al-Qath’i.
12.                        Syaikh Umar al-Bakri.
13.                        Syaikh Annajib al-Syahrawardi atau Abd al-Qahir diya ad-Din as-Suhrawardi
14.                        Syaikh Qutubuddin al-Abhari
15.                        Syaikh Rukunuddin Muhammad an-Najasyi
16.                        Syaikh Sihabuddin al-Tabrizi
17.                        Syaikh Jamaluddin al-Ahwari
18.                        Syaikh Abil Haqqi Ibrahim al-Zuhdi al-Kailani atau Abi Ishaq Ibrahim al-Kailani
19.                        Syaikh Akha Muhamad al-Basi/al-Balisi
20.                        Pir Umar al-Khalwati
21.                        Syaikh Amir al-Khalwati atau Muhammad Miram al-Khalwati
22.                        Syaikh Izuddin
23.                        Pir Sadruddin
24.                        Syaikh Abu Zakaria al-Bakuzy
25.                        Syaikh Muhammad Annahari
26.                        Syaikh Halabi Sultan Ulkarro atau Jamal al-Khalwatiyah
27.                        Syaikh Muhammad Addin al-Qustumuni
28.                        Syaikh Ismail al-Jarawi
29.                        Syaikh Mustafa Afandi Adranawy
30.                        Syaikh Abdul Latif
31.                        Syaikh Mustafa al-Bakri
32.                        Syaikh Muhammad Samman al-Qadri al-Khalwatiyah Qaddasahu Ruhahu
33.                        Syaikh Hasbi
34.                        Syaikh Abu al-Hasan
35.                        Syaikh Muhammad Amin ibn Muhammad Ridwan al-Madinah al-Munawwarah
36.                        Syekh Abdurrahman al-Khalidi
37.                        Syekh Muda Abdul Qadim Balubus
38.                        Syekh Muda Ahmad Arifin
Continue reading →
Selasa, 11 September 2012

PEMBAHASAN TENTANG PENTINGNYA PEMADUAN ANTARA SYARIAT DAN HAKIKAT

1 komentar

PEMBAHASAN TENTANG PENTINGNYA PEMADUAN ANTARA SYARI’AT DAN HAKIKAT DALAM PANDANGAN SYEKH MUDA AHMAD ARIFIN
Oleh : Saifuddin, M.A
Posted by Saifuddin, M.A. : Selasa, 11 September 2012

            Dalam Ilmu Tasawuf Syari’at meruapakan peraturan, Tarekat meruapakan jalan, Hakikat merupakan keadaan dan Makrifat itu adalah tujuan akhir. Jadi sunnah harus dilakukan dengan Tarekat, jikalau tidak dilihat pekerjaan dan cara melakukannya, yang melihat itu adalah sahabat-sahabatnya, yang menceritakan kepada tabi’in, lalu kepada tabi-tabi’in dan selanjutnya sebagaimana yang dituliskan dalam Hadis, Atsar, dan dalam kitab-kitab ulama.
            Jadi, bukan berarti Al-Qur’an, Sunnah, dan Ilmu Fiqh itu tidak sempurna, tetapi masih perlu penjelasan lebih lanjut dan bimbingan yang lebih teratur, agar pelaksanaan peraturan Allah dan Nabi itu dapat dilakukan semestinya, tidak menurut penangkapan otak orang yang hanya membaca dan melakukan sesuka-sukanya.
            Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin Syari’at hanyalah ilmu yang mempelajari tentang ucapan dan perbuatan. Batas Ilmu Syari’at sampai yang dapat dilihat dan didengar. Sedangkan Hakikat merupakan pelajaran yang di dalam hati. Ilmu Hakikat berhubungan dengan yang ghaib. Adapun tujuan Ilmu Hakikat dipelajari adalah untuk mengenal Allah. Jadi Syari’at adalah  pekerjaan zahir sedangkan Hakikat adalah pekerjaan batin.
            Demikian halnya dengan amal manusia, juga terdiri dari amal zahir dan amal batin. Amal zahir berhubungan dengan ucapan (qauli) dan perbuatan (fikli), sedangkan amal batin berhubungan dengan hati (qalb). Amal zahir adalah amal yang berwaktu dan hanya dapat dilaksanakan apabila kita memiliki kemampuan. Sebagai contoh adalah ibadah puasa, zakat, dan haji hanya dapat dilakukan apabila telah tiba waktunya dan mampu melaksanakannya. Sedangkan amal batin adalah amal yang tidak berwaktu karena pekerjaan mengingat Allah dapat dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja. Adapun mengingat Allah merupakan amal yang paling besar pahalanya di sisi Allah sebagaimana firman Allah :
وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرِ
Artinya : “Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar faedahnya”. (Q.S. 29 al-Ankabut: 45).
Bahkan  di dalam sebuah Hadis disebutkan :
تَفَكَّرُ سَاعَةِ خَيْرُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةِ
“Tafakkur (mengingat Allah) satu detik lebih baik daripada beribadah setahun hati yang tidak mengingat Allah”.
            Demikianlah keutamaan amal Hakikat bila dibandingkan dengan amal Syari’at. Bahkan Hadis di atas menjelaskan bahwa mengingat Allah satu detik saja lebih baik dari pada beramal ibadah selama setahun tetapi hatinya tidak mengingat Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang dilakukan tanpa mengingat-Nya dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah :
فَوَيْلٌ لِلْقَسْيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ, أُوْلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنِ.
Artinya : “Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22).
            Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin penyebab Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata adalah dikarenakan mereka hanya pandai mengatakan tetapi tidak pandai memperbuatnya. Sebagai contoh kita selalu membaca do’a iftitah :
إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ...
            Lisan berkata: Kuhadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Akan tetapi perbuatannya bertentangan dengan ucapannya, sebab ia tidak tahu wajah mana yang harus dihadapkannya kepada Allah. Kalau wajah yang zahir dihadapkan kepada Allah berarti Allah itu mempunyai tempat dan tidak mungkin Allah melihat wajah manusia sebab Allah itu Maha Suci. Itulah sebabnya orang yang tidak berilmu akan terlihat olehnya macam-macam bahkan ia berkeliling dunia di dalam sholatnya. Mengenai hal ini para Sufi berkata bahwa segala sesuatu yang dilihat olehnya di dalam sholatnya, maka itulah yang menjadi Tuhannya. Jika di dalam sholat ia teringat dengan anak istrinya, maka anak dan istrinya menjadi Tuhan baginya di dalam sholatnya. Itulah sebabnya Allah tidak menerima sholat orang yang tidak mempunyai ilmu, karena orang yang sholat itu mensyarikatkan Tuhannya.
            Keadaan seperti ini pernah dialami oleh Imam al-Ghazali seorang professor Ahli Filsafat, Fuqaha, Maha Guru, dan Dosen pada Universitas Nizamul Muluk pada masa Daulah Bani Abbasiyah berkuasa di Baghdad. Pada suatu hari beliau sedang jadi imam dalam sholat berjamaah bersama-sama murid beliau lebih kurang 300 banyaknya berdatangan dari seluruh penjuru dunia Islam yang mana adik kandungnya yang bernama Ahmad al-Ghazali ikut pula di dalamnya. Tiba-tiba saja di tengah sembahyang tadi adiknya muparakah (memisahkan diri) sendirian tidak mengikuti abangnya lagi, sebab sudah nampak dalam kasyafnya bahwa abangnya tidak lagi sah sembahyangnya, karena tidak ingat akan Allah dan hanya ingat akan darah haid yang menjadi masalah pengajiannya yang dibahas sebelum sembahyang tadi.
            Alangkah malunya Imam al-Ghazali bahwa sembahyangnya dibatalkan oleh adiknya yang tidak sampai kemana pengajiannya dan tidak pula popular nama gurunya. Inilah yang menjadi penyebab utama Imam al-Ghazali meninggalkan kemewahan hidup duniawi yang menyelimutinya selama ini di tengah-tengah kota Baghdad menuju masjid Baitul Maqdis di Palestina setelah belajar Tasawuf kepada Syekh Imam Zahid Abu Ali al-Farmazi dan berkhalwat di sana lebih kuarang sebelas tahun di puncak menara. Di sanalah beliau tersungkur sujud ke hadirat Allah karena nampak diri beliau berlumur najis takbur semata-mata oleh karena banyaknya ilmu yang tak bersari tadi, dan dari sanalah juga beliau meneropong dengan kasyafnya ke seluruh dunia Islam melihat akan apa yang ada dalam hati para ulama-ulama itu.
            Dengan izin Allah Taala nampaklah isi hati ulama-ulama itu bermacam-macam. Ada yang ingin jadi Qadhil Qudha yaitu hakim tertinggi dalam Daulah Bani Abbasiyah dan ada pula yang ingin berebut-rebut jadi Qadhi biasa (Qadhi Daerah) dan tidak jarang pula yang suka bertengkar dan berhujjah yang masing-masing dengan dalilnya dan keterangan yang lengkap pada berbagai macam masalah yang menunjukkan di hadapan umum bahwa dialah yang paling alim dan layak mengepalai madrasah-madrasah tertinggi dalam dunia Islam (rektor universitas).
            Berdasarkan kasyaf inilah lahirnya di puncak menara itu kitab Ihya Ulumuddin bagi Imam al-Ghazali yang isinya mengikis habis sifat-sifat mazmumah yang berpangkalan dalam hati sanubari manusia itu. Kemudian berikutnya lahir pula kitab Bidayatul Hidayah Minhajul Abidin, Kimia as-Sa’adah, dan kitab-kitab lainnya.
            Mengenai hal ini para Sufi berkata bahwa segala sesuatu yang dilihat olehnya di dalam sholatnya, maka itulah yang menjadi Tuhannya. Jika di dalam sholat ia teringat dengan anak istrinya, maka anak dan istrinya menjadi Tuhan baginya di dalam sholatnya. Itulah sebabnya Allah tidak menerima sholat orang yang tidak mempunyai ilmu, karena orang yang sholat itu mensyarikatkan Tuhannya. Oleh karena itu Allah melarang kita beramal ibadah kalau kita tidak mempunyai ilmu sebagaimana firman Allah :
وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً.
Artinya : “Dan janganlah kamu melakukan sesuatu apabila kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati sesungguhnya akan dimintai pertanggungjawabannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 36).
            Itulah sebabnya Allah melarang orang yang shalat yang tidak berilmu karena tidak tahu bagaimana menggunakan pandangan, pendengaran, dan hati mereka di dalam sholatnya. Sesungguhnya orang yang tidak dapat menggunakan pandangan, pendengaran, dan hati mereka di dalam sholat pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang mabuk di dalam sholatnya. Oleh sebab itu Allah melarang mereka menghampiri sholat sebagaimana firman Allah :
يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُواْ لاَتَقْرَبُواْ الصَّلَوةَ وَأَنْتُمْ سُكَرَى
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk”. (Q.S. 4 an-Nisa: 43).
            Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya agar terlebih dahulu mensucikan lahir dan batinnya sebelum melaksanakan sholat. Makna suci batin adalah dapat menggunakan pandangan, pendengaran, dan hatinya untuk mengingat Allah di dalam sholatnya. Apabila orang itu belum dapat mensucikan batinnya, maka Allah melarang hamba-hamba-Nya untuk menghampiri sholat, apalagi melaksanaknnya, bahkan Allah mengancam orang-orang yang sholat sebagaimana firman Allah :
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ. اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ.
Artinya : “Maka celakalah orang-orang yang sholat, mereka itu lalai di dalam sholatnya”. (Q.S. 107 al-Ma’un: 4-5).
            Adapun makna lalai di sini adalah pandangan, pikiran, pendengaran, dan hatinya tidak dapat digunakan untuk mengingat Allah. Itulah sebabnya Allah menyediakan neraka Jahannam bagi orang-orang yang sholat. Bahkan Allah menyebut mereka lebih sesat dari pada binatang karena mempunyai akal tetapi tidak dapat diperguakan untuk mengenal Allah, sebagaimana firman Allah :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَذَانٌ لاَيَسْمَعُوْنَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَاْلأَنْعَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُلَئِكَ هُمُ الْغَفِلُونَ.
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan dan mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat dari pada binatang, mereka itu orang-orang yang lalai”. (Q.S. 7 al-A’raf: 179).
            Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mengamalkan Syari’at tanpa Hakikat adalah sia-sia belaka. Mengingat begitu pentingnya pemaduan antara Syari’at dan Hakikat ini maka Imam Mazhab yang empat: Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi tentang pentingnya pemaduan antara Syari’at dan Hakikat, meskipun mereka berbeda pendapat dalam masalah fiqh.
وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ تَفَصَّخْ وَمَنْ يَتَصَوَّفُ وَلَمْ يَتَفَقَّ تَزَنْدَقَ وَمَنْ جَمَعَهَا بَيْنَهُمَا فَقَدْ فَحَقَّقَ
“Barangsiapa bersyari’at tanpa bertasawuf tidak sah dan barangsiapa yang bertasawuf tanpa bersyari’at adalah zindiq dan barangsiapa yang menyatukan keduanya maka itulah (Islam) yang sebenarnya.”
Ijma’ Imam Mazhab yang empat tersebut idasarkan pada Hadis Nabi SAW:

الشَّرِيْعَةُ بِلاَ حَقِيْقَةُ عَاطِلَةُ وَالْحَقِيْقَةُ بِلاَ شَرِيْعَةٍ بَاطِلَةٌ وَمَنْ فَرَقَ بَيْنَهُمَا فَهُوَ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
Artinya: “Bersyariat tanpa berhakikat sia-sia (kosong/hampa) dan berhakikat tanpa bersyariat batal (tidak sah) dan barangsiapa yang memisahkan keduanyan maka ia adalah kafir”.
            Jadi sesungguhnya hanya orang-orang yang mengamalkan Syari’at dan Hakikatlah yang merupakan Islam yang sebenar-benarnya dan merekalah yang disebut oleh Nabi sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian Ahlu Sunnah Waljamaah, berikut akan penulis kutipkan pendapat Syekh Ahmad Arifin mengenai hal ini.
            Menurutnya secara etimologi kata ahli bermakna pintar atau pandai. Sunnah bermakna perintah, dan jamaah bermakna menggabungkan. Adapun makna kata menggabungkan di sini menurutnya adalah memadukan antara Syari’at dan Hakikat. Jadi menurutnya yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah Waljamaah adalah golongan yang ahli atau pandai menggabungkan perintah Syari’at dan Hakikat. Namun menurut Syekh Muda Ahmad Arifin kebanyakan umat Islam saat ini keliru dalam memahami makna Ahlu Sunnah Waljamaah. Menurut mereka yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah Waljamaah adalah berpegang teguh atau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga masing-masing golongan umat Islam mengklaim diri mereka sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah, sehingga terkadang sebahagian umat Islam yang awam menjadi bingung, golongan mana yang harus mereka ikuti, karena semua golongan mengatakan bahwa golongan merekalah yang paling benar.
            Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin, yang menjadi penyebab perpecahan umat Islam saat ini adalah karena kebanyakan umat Islam, apabila mereka menjumpai berbagai persoalan yang mereka hadapi, maka mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah padahal Allah berfirman :
فَإِنْ تَنَزَعْتُمْ فِى شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ
Artinya : “Apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. 4 an-Nisa: 59).
            Oleh karena umat Islam saat ini kebanyakan tidak dapat mengenal Allah, maka bila mereka menghadapi segala sesuatu persoalan maka dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang mereka pahami berdasarkan penangkapan otak mereka belaka. Sehingga tidak heran bila di kalangan umat Islam banyak timbul berbagai macam paham, aliran dan golongan, seperti: Islam Sunni, Islam Syi’ah, Islam Ahmadiyah, Islam Darul Arqam, Islam Muhammadiyah, Islam Kaum Tua, Islam Kaum Muda, dan sebagainya. Masing-masing golongan tersebut berpendapat bahwa hanya golongan merekalah yang paling benar dan masing-masing mereka mengklaim diri mereka sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah.
            Namun dari berbagai golongan itu Syekh Muda Ahmad Arifin berpendapat bahwa secara umum umat Islam di muka bumi ini dapat dikelompokkan kepada empat golongan:
  1. Golongan pertama adalah Islam di sisi masyarakat, kafir di sisi Allah. Yang dimaksud adalah bersyari’at tetapi tidak berhakikat. Mereka adalah Ahli Ibadah yang ketat mengamalkan  Syari’at Nabi, namun Allah tidak memberikan penilaian apa-apa atas amal ibadah yang telah mereka lakukan. Hal ini disebabkan mereka tidak mengenal yang mereka sembah. Mereka sesungguhnya segolongan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.
  2. Golongan yang kedua adalah Islam di sisi Allah, kafir di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah berhakikat namun tidak bersyari’at. Mereka adalah orang-orang yang mengambil Hakikat dan mengabaikan Syari’at, seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang zindiq yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah.
  3. Golongan yang ketiga adalah kafir di sisi Allah dan kafir di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah tidak bersyari’at dan tidak berhakikat. Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai Islam KTP.  Mereka sesunggunya adalah orang-orang yang fasiq.
  4. Golongan yang keempat adalah Islam di sisi Allah dan Islam di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah bersyari’at dan berhakikat. Mereka adalah Ahli Hakikat yang beribadah secara zahir dan batin dan merekalah yang disebut oleh Nabi SAW sebagai Ahlus Sunnah Waljamaah yaitu golongan yang memadukan antara Syari’at dan Hakikat.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        


Continue reading →